BECAK WISATA KOTA LAMA SURABAYA, SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENJELAJAH JEJAK KOLONIAL
“Kawasan kota lama ini dulunya menjadi tempat mangkal
tukang becak dan mikrolet yang membuat lalu lintas disekitar semrawut”. Ungkap
bapak Sa’id tukang becak wisata kota lama (24/05/2025)
Dan
kini pemerintah Surabaya menggandeng para tukang becak di wilayah tesebut untuk
beralih menjadi becak wisata untuk membantu para wisatawan berkeliling kota
lama Surabaya dan mereka memiliki ciri khas yaitu memakai pakaian kuning yang
mencolok khas tionghoa. Penumpang akan diajak berkeliling rute utama seperti
Jalan Rajawali, Jembatan Merah, Gedung Internatio, hingga bekas Balai Pemuda.
“Saya
sudah lama jadi tukang becak dan saya mangkal biasanya di jalan rajawali depan
Hotel Arcadia” ujar bapak Sa’id.
Becak roda tiga mulai dikenal di Hindia Belanda pada tahun 1920-an. Awalnya, para pedagang dan pengusaha lokal memodifikasi sepeda atau rangka kereta kuda kecil agar dapat mengangkut penumpang. Model yang dipersonalisasi itu kemudian berkembang menjadi sejenis “becak” dengan tempat duduk di depan dan pengayuh pedal di belakang. Desain tiga roda dianggap lebih stabil ketimbang dua roda (pedicab) dan lebih mudah dikendalikan oleh pengemudi, terutama saat membawa beban penumpang dan barang.

Komentar
Posting Komentar